Nabi-nabi

Kurban yang Sesungguhnya (Bagian 1)

kurban

KURBAN YANG SESUNGGUHNYA

 

[email protected]

 

Kisah Perjalanan Nabi Abraham, Musa, dan Yesus, dalam Pengungkapan Kurban Yang Sesungguhnya…

 

  1. Abraham

 

Sahabat Tuhan

 

Abraham adalah seorang nabi besar dan oleh orang Muslim maupun Kristen ia dianggap sebagai leluhur spiritual mereka. Abraham mempunyai hubungan yang benar dengan Tuhan, bahkan ia disebut sebagai sahabat Tuhan baik dalam Quran maupun dalam Alkitab.

 

Dalam Quran kita membaca, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya”. (Sura 4:125).

 

Hal yang sama dikatakan dalam Alkitab, yaitu:

“Dan Abraham percaya kepada Elohim dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran,” maka dia disebut, “Sahabat Elohim”. (Yakobus 2:23)

 

Bagaimanakah Abraham dapat memperoleh perkenanan sedemikian dari Tuhan sehingga Tuhanpun memandangnya sebagai sahabat-Nya? Alasannya, saat banyak orang pada masa hidup Abraham menyembah berhala-berhala, termasuk ayahnya sendiri, Abraham hanya menyembah satu Tuhan.

 

Di dalam Quran, Abraham berkata kepada ayahnya: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata… Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Sura 6:74, 79).

 

Kita juga harus berhati-hatu agar tidak memiliki ilah-ilah lain dalam hidup kita. Mungkin kita tidak menyembah berhala secara fisik tetapi kita mempunyai hal-hal yang kita pentingkan jauh melebihi Tuhan, misalnya uang, karir, keluarga, dan sebagainya. Semua ini dapat dengan mudah menjadi “tuhan-tuhan” lain dalam hidup kita yang dapat mengalihkan kita dari menyembah satu Tuhan yang sejati.

 

Selain Abraham, ada pula nabi lain yang dekat dengan Tuhan. Faktanya, Tuhan bahkan berbicara kepadanya secara langsung. Tahukah anda siapa dia? Kita akan berbicara lebih banyak mengenai dia dalam buklet berikut dan belajar dari hidupnya bagaimana agar kita juga dapat dekat kepada Tuhan.

 

Iman Abraham kepada Tuhan diperhitungkan sebagai kebenaran

 

Abraham tetap manusia. Walau Abraham menjalani hidup yang menyenangkan hati Tuhan, ia pun tidak sepenuhnya bebas dari dosa. Dalam Quran, Abraham berdoa kepada Tuhan, “dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat“. (Sura 26:82).

 

Sekalipun Abraham tidak sempurna, ia dinyatakan benar oleh karena imannya. Ia memberi kita penghiburan. Tak peduli sekeras apapun usaha kita, seringkali kita masih jatuh ke dalam dosa. Tetapi Tuhan itu Maha Mengampuni dan Ia akan mengampuni kita jika kita bertobat. Dari hidup Abraham kita tahu bahwa tetap ada kemungkinan bagi kita untuk menjalani hidup yang menyenangkan hati Tuhan sekalipun kita bukanlah makhluk yang sempurna. Apakah yang dilakukan Abraham yang menyenangkan Tuhan dan bagaimanakah kita dapat belajar dari hidupnya?

 

Kita telah membaca bahwa Abraham disebut sahabat Tuhan karena ia hanya menyembah Tuhan dan tidak mempunyai ilaih-ilah lain selain dari Tuhan. Sebagai tambahan, ada hal penting lainnya yang dapat kita pelajari dari hidupnya. Abraham beriman kepada Tuhan.

 

Iman kepada Tuhan sangatlah penting sehingga Tuhan menganggap kita benar tidak semata-mata oleh karena perilaku religius lahiriah kita tetapi juga oleh karena iman kita kepada-Nya. Quran mengatakan, Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi …” (Sura 2:177).

 

Alkitab juga mengatakan kepada kita bahwa Tuhan memandang Abraham benar ketika ia percaya kepada Tuhan. Ketika Abraham masih belum mempunyai anak, sedangkan ia dan istrinya telah berusia lanjut, Tuhan menjanjikan padanya banyak keturunan. Sekalipun ini nampaknya mustahil, Abraham percaya kepada Tuhan dan ia dipandang benar oleh karena imannya.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Tuhan berkata kepada Abraham: “Lihatlah ke langit dengan saksama, dan hitunglah bintang-bintang itu seandainya engkau dapat menghitungnya.” Dan Dia berfirman kepadanya, “Demikianlah kelak keturunanmu.” Lalu percayalah dia kepada YAHWEH dan Dia memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran”. (Kejadian 15:5-6)

 

Abraham rela mengorbankan sesuatu yang berharga bagi Tuhan 

 

Abraham beriman kepada Tuhan dan itu menjadikannya berkomitmen total untuk mengikuti Tuhan. Quran mengatakan bahwa: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (Sura 16:120).

 

Baik Quran dan Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Tuhan meminta Abraham untuk mengorbankan putranya. Setelah menanti sekian lama untuk mendapatkan keturunan, putra Abraham tentunya sangatlah berharga baginya. Namun ketika Tuhan memintanya untuk mengorbankan anaknya, Abraham taat dengan rela hati.

 

Dalam Quran kita membaca,“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (Sura 37:102-107). [NB. Perhatikan teks aslinya, dan terjemahan lain-lain, seperti Yusuf Ali dari aslinya: “And We ransomed him with a momentous sacrifice” (Dan Kami menebus anak itu dengan sebuah korban yang agung), yang mana kurban dari “seekor binatang” dimaknakan sejatinya sebagai “satu sosok kurban yang agung”. Siapakah sosok ini? Baca seterusnya]

 

Apakah yang Tuhan minta dari kita untuk kita taati? Bersediakah kita menaati Tuhan berapapun harga yang harus kita bayar? Bersediakah kita menyerahkan sesuatu yang berharga jika ketaatan kepada Tuhan mewajibkan kita melakukannya?

 

Kasih Abraham kepada Tuhan sangatlah besar hingga ke tingkat dimana ia bersedia mengorbankan putranya sendiri. Sekalipun besar kasih Abraham kepada Tuhan, apakah menurut anda kasih Tuhan kepada manusia bisa terlebih besar lagi? Apakah Mahakasih Tuhan kepada manusia bisa tidak kalah besarnya sedemikian hingga Ia-pun juga rela mengorbankan sesuatu yang berharga bagi-Nya demi kita-kita umatNya?

 

Tuhan mendemonstrasikan kasih-Nya pada kita

 

Tuhan itu Maha Kasih. Baik Quran maupun Alkitab mengatakan pada kita bahwa pada akhirnya Tuhan tidak membiarkan Abraham mengurbankan putranya, alih-alih Ia menyediakan kurban pengganti untuk mati menggantikan putranya. Yang menarik adalah, Quran mengatakan pada kita bahwa hewan yang diberikan Tuhan disebut sebagai kurban yang berharga, yang berarti sangat penting dan bernilai bagi Tuhan. Mengapa seekor hewan bisa disebut sebagai kurban yang berharga? Mungkinkah? Atau hewan kurban ini menunjuk kepada satu sosok kurban yang terlebih besar yang akan dating nanti? Ya, catatan Alkitab mengenai insiden ini justru menunjukkan hal tersebut.

 

Dalam Alkitab kita membaca,

Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat YAHWEH dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”  Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: “YAHWEH Yireh” (YAHWEH menyediakan); sebab itu sampai sekarang dikatakan orang:
“Di atas gunung YAHWEH, akan disediakan.
 (Kejadian 22:10-14).

 

Dalam ayat-ayat sebelumnya, ketika putra Abraham menanyakan padanya dimanakah hewan untuk dikurbankan, Abraham menjawab Tuhan akan menyediakan seekor domba sehingga putranya tidak harus merisaukan siapa yang harus dikorbankan. Dan akhirnya betullah, yang disediakan Tuhan bagi Abraham adalah seekor domba jantan. Itulah sebabnya mengapa Abraham terus memandang ke depan, ke hari dimana Tuhan benar-benar menyediakan seekor domba sebagai kurban di gunung tersebut. Oleh karena itu ia menamai tempat itu “Tuhan akan menyediakan” (yaitu sebuah nubuat kedepan), dan bukan “Tuhan telah menyediakan”.

 

Baik dalam Quran dan Akitab, Tuhan adalah pihak yang menyediakan tebusan yang menyelamatkan jiwa kita. Hanya Tuhan saja yang dapat menyelamatkan kita.

 

Quran mengajarkan kebenaran ini ketika mengatakan, “Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu” (Sura 6:70).

 

Tetapi Tuhan dalam kemurahan-Nya akan menyelamatkan kita dari penghukuman. Tidak seorangpun dapat melakukannya. Kita tidak dapat menyediakan tebusan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Tebusan berharga apakah yang akan disediakan Tuhan untuk menyelamatkan kita?

 

Pentingnya kurban hewan

 

Kurban hewan penting bagi Tuhan. Dalam Alkitab, sejak kasus kejatuhan Adam dalam dosa, Tuhan sudah mulai memperlihatkan secara samar-samar adanya “hewan kurban” yang dikorbankan sebagai “cawat kulit” yang perlu dikenakan kepada Adam dan Hawa, sebagai pengganti “cawat daun” (penutup malu) yang mereka buat sendiri (Kej.3:21). Itu adalah lambang kurban-pengganti yang YAHWEH sediakan cuma-cuma sebagai penutup dosa (kemaluan) Adam-Hawa. Dalam kasus Abraham, Tuhan memakai perlambangan yang lebih jelas lagi, yaitu tidak hanya menghentikan Abraham dari mengurbankan putranya dan menyuruhnya pulang. Tidak! Tuhan melainkan juga menyediakan seekor hewan pengganti (sebagai kurban-pengganti) agar anak Abraham dapat diselamatkan.

Dan dalam kasus Musa, Quran ada pula menceritakan kisah yang menarik dimana seekor hewan kurban (yang tidak bercacat) bahkan dapat memberi hidup kepada orang yang telah mati. Baca Sura 2:71-73, dimana akhirnya Allah berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti”.

 

Maka Musa dalam Alkitab mulai memperkenalkan lambang darah kurban sebagai pengganti kematian umat Tuhan. Ia mengharuskan umatNya melaburkan darah kurban pada kedua tiang pintu dan palang rumahnya, demi terhindar dari kematian yang akan ditimpakan Tuhan kesetiap rumah yang tanpa tanda “darah kurban” tsb. Sebab malaikat maut telah disiapkan untuk mencabut setiap nyawa anak sulung Mesir yang tidak terlindung oleh tanda darah tsb. Tuhan bersabda, “Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan ditengah tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir” (Kel.12:13).

 

Baik Quran maupun Alkitab menyebutkan betapa pentingnya hewan kurban dan apa yang direpresentasikannya dalam lambang-lambang nubuat yang secara bertahap terus diperjelas dalam Alkitab. Maka setelah Abraham, Tuhan lebih banyak memberikan instruksi terperinci kepada nabi lain mengenai keseluruhan sistem dalam mengurbankan hewan.

 

Siapakah nabi tersebut?

 

Sementara hewan kurban adalah hal yang penting, ritual mengurbankan hewan tidak berarti apa-apa bagi Tuhan kecuali kita mempunyai hati yang benar.

 

Quran mengatakan, “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (Sura 22:36-37).

 

Alkitab menggemakan kebenaran ini ketika Daud menulis dalam kitab Zabur (Mazmur),

“Sebab Engkau tidak menginginkan kurban, yang akan aku berikan; Engkau tidak menyukai persembahan bakaran. Kurban bagi Elohim adalah roh yang remuk, hati yang remuk dan patah, ya Elohim, tidaklah Engkau pandang hina. Lakukanlah kebaikan menurut kehendak-Mu kepada Sion; bangunlah tembok Yerusalem. Pada waktu itu, Engkau akan menyukai kurban kebenaran, persembahan bakaran, dan yang terbakar keseluruhannya; pada waktu itu mereka mempersembahkan lembu jantan di atas mezbah-Mu” (Mazmur 51:16-19).

 

Apakah kita memperlakukan hubungan kita dengan Tuhan semata-mata hanya sebagai melakukan ritual-ritual religious tanpa hati? Ritual ibadah berulang kali yang bersifat fisikal yang itu lagi dan itu lagi? Tuhan lebih memperhatikan hati, bukan ritual. Apakah hati kita benar-benar mencari Tuhan?

 

Dari catatan-catatan mengenai Abraham baik di Quran dan Alkitab, kita belajar bahwa Abraham sungguh adalah orang yang ditinggikan oleh Tuhan. Namun ia tidak ditinggikan sendiri. Ada seorang nabi lain lagi setelah Abraham yang juga ditinggikan oleh Tuhan. Nabi yang satu ini bahkan digambarkan sebagai orang yang termasuk dalam hitungan mereka yang amat sangat dekat dengan Tuhan. Sangat dekat dan intim karena ia tak berdosa sebagaimana Tuhan juga kudus tanpa dosa. Siapakah dia?

 

Abraham, walaupun ia disebut sebagai sahabat Tuhan, pernah beberapa kali berdosa dan meminta pengampunan Tuhan. Adakah orang lain dalam Quran dan Alkitab yang tidak berdosa dan tidak pernah harus meminta pengampunan Tuhan?

 

Mari menggali lebih dalam di sepanjang perjalan spiritual kita saat kita menemukan lebih banyak lagi dalam buklet-buklet lainnya.

 

(BERSAMBUNG)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *