Nabi-nabi

Kurban yang Sesungguhnya (Bagian 2)

kurban

Kita telah berbicara panjang lebar tentang Abraham seorang Khalilullah (Sahabat Allah), dan kini dilanjutkan kepada Musa, yang digelar dahsyat sebagai Kalimullah, yang berbicara langsung dengan Allah.

  1. Musa

Tuhan berbicara langsung –muka dengan muka– dengan Musa

Abraham adalah seorang nabi yang dekat dengan Tuhan dan disebut sahabat Tuhan, Khalil Allah. Nabi lainnya yang juga dekat dengan Tuhan adalah Musa. Baik Quran maupun Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Musa memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan sehingga Tuhan turun ke bumi untuk berbicara secara langsung kepada Musa dan tidak melalui perantaraan malaikat.

Quran mengatakan,
“Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” (Sura 4:164).

Alkitab mengatakan dengan lebih khusus lagi,
“Dan YAHWEH akan berfirman kepada Musa muka dengan muka,
seperti ketika seseorang berbicara kepada temannya”
(Keluaran 33:11).

Wow, betapa kita harus membayangkan kehormatan tertinggi ini yang Tuhan berikan kepada NabiNya, Musa!

Baik Quran maupun Alkitab mencatat peristiwa Tuhan turun ke bumi untuk berbicara kepada Musa.

Quran mengatakan, “Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan. Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam” (Sura 28:28-30).

Alkitab mengatakan kepada kita,

Dan Malaikat YAHWEH menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api dari tengah-tengah semak duri. Dan dia melihat, dan tampaklah, semak duri itu menyala-nyala dalam api, tetapi semak belukar itu tidak terbakar hangus.Dan Musa berkata, “Aku akan melihat ke sisi lain sekarang dan memeriksa penglihatan yang hebat itu, mengapa semak belukar itu tidak terbakar hangus?” Dan YAHWEH melihat bahwa dia menyimpang ke samping memeriksanya. Dan Elohim memanggil ia dari tengah-tengah semak berduri itu, dan berkata, “Musa! Musa!” Dan dia menjawab, “Inilah aku.” (Keluaran 3:2-4)

Apa yang dapat kita pelajari dari hidup Musa untuk menolong kita menjalani hidup yang menyenangkan hati Tuhan? Pertama-tama, Musa, seperti halnya Abraham, tidak menyembah banyak ilah dan mengajarkan hanya ada satu Tuhan.

Dalam Alkitab, Musa mengajarkan:

“Dengarkanlah hai Israel, YAHWEH, Elohim kita, YAHWEH itu Esa” (Ulangan 6:4).

Agama yang benar senantiasa dimulai dengan keyakinan akan satu Tuhan. Tuhan itu Maha Besar sehingga kita tidak dapat mendamping-kanNya dengan sosok lainnya yang adalah mahklukNya. Itu tentu suatu kebodohan dan sekaligus penghujatan besar. Akan tetapi sesudah mulai mengenal dan meyakini bahwa Tuhan itu Esa, Dia yang Esa juga mau dikenal oleh umatNya sebagai Tuhan Yang Menyelamatkan (SAVIOR). Tidak ada gunanya jikalau Dia itu hanya dikenal Esa tetapi tidak menjadi Penyelamat umat manusia. Bukankah Setan, Iblis dan Jin juga mengenal Dia Yang Esa, namun tetap menjadi setan selamanya?

Di masa lampau Tuhan berbicara kepada para nabi-Nya. Seperti yang sudah dipaparkan terdahulu, Tuhan memakai kisah Abraham yang pada awalnya diperintahkan untuk mempersembahkan anaknya sebagai kurban, namun berakhir dengan penyelamatan sang anak oleh TEBUSAN anak domba (kurban penumpahan darah) yang Tuhan sediakan sendiri! Ini dikisahkan dalam Alkitab (Kejadian ps.22) maupun dalam Quran (QS.37:107).                                                                  

Dewasa ini, Ia terus “berbicara” kepada umat-Nya terutama melalui Firman-Nya, yaitu Alkitab. Apakah kita memperhatikan Tuhan ketika Ia berbicara kepada kita, dan kita merenungkan SEMUA FirmanNya? Ya, semuanya melukiskan Dia sebagai Tuhan yang menyelamatkan umatNya.

Tuhan yang Esa di duet-kan dengan Tuhan Savior! Maka Musa serta-merta memobilisasikan umatNya dengan meneguhkan iman mereka terhadap Tuhan Savior:

Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari YAHWEH, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. YAHWEH akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja” (Keluaran 14:13-14).

 

Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya kepada Musa

Kita telah membaca bahwa sekalipun Abraham dekat dengan Tuhan, ia berdosa dan Tuhan mengampuninya. Demikian pula kita membaca baik dalam Quran maupun Alkitab bahwa Musa melakukan dosa yang sangat serius, yakni pembunuhan, dan Tuhan juga mengampuninya berdasarkan kemurahan-Nya.

Quran menceritakan pada kita tentang Musa, “Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Sura 28:15-16).

Alkitab juga menceritakan pada kita bahwa:

“Dan terjadilah pada waktu itu, Musa pun menjadi dewasa, dan dia pergi keluar kepada saudara-saudaranya dan melihat kerja paksa mereka. Dan dia melihat seorang Mesir yang sedang memukuli seorang Ibrani, salah seorang dari saudaranya itu. Dan kemudian dia menoleh ke sana dan ke sini dan melihat bahwa tidak ada seorang pun di sana; dan dia membunuh orang Mesir itu dan menyembunyikannya di dalam pasir” (Keluaran 2:11-12).

Dari apa yang kita baca mengenai Abraham dan Musa, yang adalah dua nabi Tuhan yang besar, kita belajar bahwa jatuh ke dalam dosa adalah hal yang sangat manusiawi. Namun, ketika kita berdosa, kita mempunyai jaminan bahwa Tuhan itu Maha Pemurah dan beranugerah. Jika kita sungguh-sungguh bertobat, Tuhan bersedia mengampuni kita dan dapat terus memakai kita untuk melakukan hal-hal besar bagi-Nya, seperti yang dilakukan-Nya dalam kasus Abraham dan Musa. Apakah kita datang secara teratur kepada Tuhan untuk mengakui dosa-dosa kita?

 

Musa melakukan pengorbanan yang besar untuk menaati Tuhan

Dalam buklet terdahulu, kita melihat bagaimana Abraham bersedia untuk menaati Tuhan sekalipun ia harus mengurbankan anaknya. Demikian pula Musa harus melakukan pengorbanan yang besar ketika ia memilih untuk menaati Tuhan. Tuhan telah memerintahkan Musa untuk meminta Firaun membiarkan orang Israel meninggalkan tanah Mesir.

Musa memiliki banyak alasan untuk merasa takut menghadapi Firaun yang galak. Orang Mesir adalah bangsa yang sangat berkuasa dan kini Musa harus menuntut Raja Mesir untuk membiarkan umat Tuhan pergi. Musa harus melakukannya dengan risiko kehilangan nyawanya. Namun ia menaati Tuhan.

Kita dapat belajar beberapa hal yang penting dari hidup Abraham dan Musa, dua orang nabi yang dekat dengan Tuhan. Keduanya beriman kepada satu Tuhan yang sejati dan mereka berkomitmen total untuk menaati Tuhan berapapun harganya. Dan ini dilakukan karena yakin akan janji Tuhan yang akan menyelamatkan! Jika anda mengetahui bahwa Tuhan memanggil anda untuk menaati-Nya dalam suatu perkara, bersediakah anda menaati-Nya sekalipun mahal harga yang harus anda bayarkan?

Bertahun-tahun kemudian, Yesus juga mengingatkan para murid-Nya bahwa mereka akan menghadapi penganiayaan, sama seperti para nabi sebelum mereka. Tetapi sekalipun harga mengikuti Tuhan sangatlah mahal, upahnya pun besar.

Dalam Alkitab Yesus berkata,

“Berbahagialah kamu bilamana karena Aku mereka mencela kamu dan menganiaya bahkan mengatakan setiap perkataan yang jahat terhadap kamu dengan berdusta, bersukacitalah dan bergembiralah karena pahalamu besar di surga, sebab demikianlah mereka telah menganiaya para nabi sebelum kamu” (Matius 5:11-12).

 

Tuhan memberi Musa banyak tanda-kuasa

Ketika Tuhan memanggil kita untuk menaati-Nya dalam suatu perkara, Ia tidak membiarkan kita tak berdaya sendirian. Ia senantiasa menyediakan sarana bagi kita untuk menyelesaikan tugas tersebut. Musa dipanggil Tuhan untuk melakukan sebuah tugas yang sangat sulit, yakni memaksa Firaun agar membiarkan umat Tuhan pergi. Ini adalah sebuah misi penyelamatan! Untuk menolong Musa, Tuhan memberinya banyak tanda-kuasa ajaib, yang bersifat supranatural dan akan meyakinkan Firaun bahwa Tuhan menyertai Musa.

Quran mengatakan kepada kita, “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir” (Sura 17:101).

Sekalipun Musa memperlihatkan ke-9 tanda ajaib ini kepada orang-orang Mesir, Firaun tidak bertobat. Alih-alih mengakui bahwa Tuhan menyertai Musa, ia menuduh Musa melakukan sihir. Untunglah Alkitab mencatat ada tanda yang ke-10 yang menyebabkan Firaun akhirnya menyerah dan membiarkan umat Tuhan meninggalkan Mesir. Tanda ke-10 itu adalah Tuhan melewati Mesir dan membunuh setiap anak sulung.

Lalu Musa berkata,

“Beginilah YAHWEH berfirman: Pada waktu tengah malam, Aku akan keluar ke tengah-tengah Mesir. Dan, setiap anak sulung di tanah Mesir akan mati, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya, sampai kepada anak sulung hamba perempuan yang ada di belakang batu kilangan, dan setiap anak sulung hewan” (Keluaran 11:4-5).

Tetapi Tuhan menjaga dan mengasihi umat-Nya dan mempunyai solusi bagi mereka agar lolos dari maut. Sama seperti hewan yang menjadi kurban tebusan menggantikan anak Abraham, prinsip yang sama yakni kematian substitusi (tebusan) demi menyelamatkan orang Israel. Anak sulung dalam keluarga tidak akan mati jika keluarga tersebut mengurbankan hewan yang tidak bercacat dan melabur darah hewan itu di ambang pintu rumah mereka.

Dalam Alkitab, Tuhan menginstruksikan Musa:

“Berbicaralah kepada seluruh jemaat Israel, dengan mengatakan:… Haruslah itu seekor kambing domba yang sempurna, jantan, berumur setahun; haruslah kamu mengambilnya dari antara anak domba-domba atau dari antara kambing-kambing milikmu. Dan haruslah dia menjadi seperti simpanan bagi kamu sampai hari keempat belas bulan ini. Dan seluruh kumpulan jemaat Israel harus menyembelihnya pada waktu senja. Dan mereka harus mengambil dari darah itu, dan mengoleskannya pada kedua tiang dan pada ambang pintu di rumah itu, yang di dalamnya mereka makan… Maka Aku akan melintas di tanah Mesir pada malam itu. Dan Aku akan memukul setiap anak sulung di tanah Mesir, mulai dari manusia bahkan sampai ternak. Dan ke atas semua ilah Mesir Aku akan menjatuhkan penghakiman. Akulah YAHWEH! … Dan, darah pada rumah-rumah tempat kamu berdiam di sana, akan menjadi seperti tanda bagimu; maka Aku akan melihat darah itu, dan Aku akan lewat di atas kamu, dan tulah yang membinasakan tidak akan ada padamu, ketika Aku mendatangkan pukulan atas tanah Mesir” (Keluaran 12:3 ff).

 

Musa melembagakan kurban hewan

Musa mengajarkan umat akan pentingnya kurban hewan sebagai pertanda untuk menghapus dosa kita dan menyelamatkan jiwa kita dari kematian.

Dalam Alkitab, Tuhan berkata kepada Musa: “Lalu katakanlah kepada orang Israel: ambillah seekor domba jantan sebagai korban penebus dosa. Anak lembu atau domba – keduanya berusia setahun dan tidak becacat cela – sebagai korban bakaran…” (Keluaran 12).

Quran juga berbicara mengenai mempersembahkan hewan kurban kepada Tuhan jika anda tidak mampu menunaikan kewajiban-kewajiban tertentu dalam ibadah Haji. Orang Muslim percaya bahwa setelah mereka menunaikan ibadah Haji, mereka kembali menjadi tidak berdosa.

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelih-lah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihan-nya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya”. (Sura 2:196)

Cendekiawan Muslim ternama Imam Ghazali mengajarkan,“Kurban dalam skala besar (massal) mendekatkan orang kepada Tuhan. Dengan harapan bahwa dalam setiap bagian dari hewan kurban tersebut, Tuhan akan menyelamatkan setiap bagian tubuhmu dari api neraka” (Ihya Ulum id din, Vol.1 h.257).

Mengapa persembahan kurban harus diberikan kepada Tuhan sebelum dosa dapat diampuni? Apakah karena Tuhan adalah Hakim yang adil yang tidak dapat mengabaikan dosa dan oleh karena itu penghukuman harus diterima baik oleh kita maupun kurban tebusan? Apakah hewan biasa dapat cukup bernilai untuk diperlakukan sebagai pengganti hukuman terhadap manusia? Ataukah hewan-hewan tersebut hanya merupakan perlambang dari kurban yang terlebih besar lagi – sedemikian sehingga disebut Quran sebagai kurban yang AGUNG (Azhiim)? Bisakah binatang mendapatkan title yang boleh merujuk kepada nama Allah (Al-Asma`ul Husna) yang disebut juga sebagai “Al-Azhiim” (maha agung) dalam QS.2:255, 42:4?

Mengapa pula hewan yang dikurbankan itu haruslah yang tidak bercacat? Dapatkah sesuatu yang bercacat dari dirinya sendiri menghapuskan cacat cela dan dosa kita? BUKAN! Itu dilembagakan Musa sebagai rujukan nubuat kepada satu sosok Sang Kurban Agung yang kelak akan datang untuk menghapus dosa dunia (akan dibicarakan “the real qurban”).

 

Tuhan memberikan Firman-Nya kepada Musa

Baik Quran dan Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Tuhan memberi Taurat (Hukum) kepada Musa untuk menunjukkan kepada umat-Nya bagaimana mereka harus hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya.

Quran mengatakan, “Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka” (Sura 6:154).

Dalam Quran, Tuhan berkata kepada Muhammad, “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya” (Sura 35:31).

Quran mengafirmasi bahwa di sepanjang periode waktu dari Musa hingga Muhammad, tidak seorangpun dapat memalsukan Firman Tuhan karena Tuhan sendiri menjaganya dengan aman.

Dalam Quran, Tuhan berkata kepada Muhammad, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) … “ (Sura 5:48).

Alkitab juga bersaksi mengenai kuasa Tuhan yang mampu memelihara Firman-Nya dari pemalsuan.

Alkitab mengajarkan, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Elohim kita akan tegak untuk selamanya” (Yesaya 40:8).

Tuhan menjaga Firman-Nya dengan baik di sepanjang abad karena Firman-Nya itu berharga dan kekal. Apakah kita membaca Firman Tuhan dengan teratur? Apakah kita berusaha untuk memahami Firman Tuhan dan merenungkan pengajaran-Nya?

Oleh karena Tuhan telah mewahyukan pesan-Nya dalam semua kitab-kitab ini, Ia mewajibkan kita untuk membaca dan mengetahui semuanya itu, bukan hanya satu kitab, apalagi sepotongnya.

Quran berkata, Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka se-sungguh-nya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya” (Sura 4:136).

 

Menguji dan Memilih Dengan Seksama
Musa memberi Taurat kepada umat dan meminta mereka agar memilih dengan seksama jalan yang hendak mereka ambil – jalan Tuhan yang membawa kepada kehidupan yang selamat, ataukah jalan yang salah yang membawa kepada maut.

Dalam Alkitab, Musa mengajarkan “aku telah memaparkan di hadapan engkau kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Dan engkau telah menjatuhkan pilihan pada kehidupan supaya engkau hidup, yaitu engkau dan keturunanmu” (Ulangan 30:19-20).

Dan sungguh Tuhan lewat Musa mematrikan secara kekal Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandment) yang menduet-kan diriNya antara PenyelamatanNya (dari perbudakan) dan KeesaanNya:
“Akulah YAHWEH, Elohimmu, yang membawa
engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku…”
(Kel.20:2,3)

Tuhan benar-benar murah hati. Ia menunjukkan pada kita jalan yang benar tetapi tidak memaksa kita untuk mengambilnya. Tidak ada pemaksaan dalam agama yang sejati (Sura 2:256). Tuhan ingin kita menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih jalan yang benar. Dan pilihannya telah disederhanakan Tuhan sedemikian sehingga tidak usah complex dan ruwet, melainkan memilih Tuhan yang menduet-kan dirinya dalam Keesaan diriNya dan Karya penyelamatanNya sebagai Savior!

Kita bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi kita kebebasan untuk memilih dan meminta Tuhan memberi kita hikmat untuk menguji jalan yang benar.

Musa disebut sebagai Kalimullah, gelar terhormat di dunia ini. Akan tetapi seseorang yang datang kelak setelah dia akan disebut Yang Terkemuka di alam dunia ini dan dialam akhirat keseluruhannya. Siapakah Ia? Tidak sulit untuk menguji dan memilihnya, karena Tuhan telah menyediakan Tanda dan cirri-ciriNya secara khas dan unik.

Sama seperti Musa telah diberi tanda-tanda yang super-jelas –termasuk tongkat kuasa ilahiNya– agar umat dapat mengetahui bahwa Ia sungguh berasal dari Tuhan. Namun demikian, sosok yang akan datang setelah dirinya itu, tidak hanya diberi tanda-tanda yang jelas untuk membuktikan bahwa Ia berasal dari Tuhan, Ia sendiri melainkan akan disebut sebagai Tanda bagi alam semesta! Siapakah Dia?

 

(BERSAMBUNG)

One thought on “Kurban yang Sesungguhnya (Bagian 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *