Nabi-nabi

Kurban Abraham

Kurban Abraham

Pengantar:
Dengan makin terbukanya dunia ilmu pengetahuan, influx informasi global dan kompilasi artefak dan segala naskah-naskah kuno, orang makin tahu sekarang mana-mana cacatan yang termasuk historis ataupun lebih bersifat legenda. Misalnya, dari wilayah mana tibanya Adam dan Hawa ke Mekah? Diusir dari sorga dan jatuh kesana? Organ tubuh disorga tak butuh penyesuaian total ketika berpindah ke alam baru didunia? Apakah Ibrahim sungguh pernah ke Mekah? Bersama Hagar dan bayi Ismail? Dengan apa dan bagaimana ketiganya bisa sampai kesana (yang belum ada)? Dengan Buraq Allah? Tetapi dimanakah Allah telah mengatakannya? Andaikata betul berminggu-minggu atau berbulan-bulan Ibrahim pergi ke Mekah bersama istrinya Hagar, kenapa Hagar tidak hamil dan melahirkan adik bagi Ismail? Bukankah Hagar itu sangat subur-rahim? Dan kalau Baitullah Mekah adalah Bait Allah pertama didunia, kenapa Ishaq dan Yakub dll tidak pernah dibawa Ibrahim untuk menyembah Allah disana? Bukankah Ibrahim mengunjungi Mekah beberapa kali lagi sendirian kesana, hingga Ismail jadi anak muda yang mampu membantu membangun Ka’bah? Tetapi kapan dan dimana posisinya Ismail ketika siap menjadi anak sembelihan ayahnya? Di Mekah atau di Palestina?….

 

Ada banyak sekali kisah nabi Muhammad yang dipermasalahkan orang dewasa ini. Apakah kebenaran mengenai Kurban Abraham? Bagi siapakah kurban tersebut? Siapakah yang memberi mimpi kepada Abraham? Sebelum membahas rincian materi ini, pembaca disarankan untuk mengesampingkan semua konsepsi awal mengenai isu ini dan memverifikasi subyek ini semata-mata berdasarkan bukti yang disediakan Quran.


Pertama
Kita membaca dalam Sura 37 bagaimana dalam mimpinya Abraham melihat dirinya menyembelih putranya (Ismail). Namun, Quran sama sekali tidak mengatakan bahwa mimpi tersebut berasal dari Tuhan:


Sura 37

  1. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
  2. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
  3. Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,
  4. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
  5. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
  6. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
  7. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
  8. (yaitu)”Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.”
  9. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
  10. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

 

Kedua
Dalam Quran dengan jelas telah ditetapkan bawa membunuh seorang beriman yang tidak bersalah adalah sebuah dosa besar:
” Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)… “ Sura 4:92

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” Sura 4:93

 

Ketiga
Kita juga tahu bahwa Tuhan tidak pernah menganjurkan untuk melakukan dosa:
“Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Sura 7:28
Jika kita menempatkan ketiga fakta penting ini saling berdampingan, kita tahu bahwa Ismail adalah seorang yang saleh, maka pembunuhan terhadap dirinya adalah sebuah dosa, dan kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah menganjurkan untuk berbuat dosa. Kebenarannya semakin jelas; mimpi Abraham bukan berasal dari Tuhan melainkan dari Setan.

Tetapi oleh karena Abraham adalah seorang beriman yang salehKarena itu Kami akan memberi upah pada mereka yang melakukan yang baikTuhan mengintervensi dan menyelamatkan Abraham dari terjatuh ke dalam jebakan Setan. Tuhan mengintervensi ketika Abraham gagal menafsirkan dengan tepat sumber penglihatan tersebut. Ini terlihat dari perkataan Tuhan kepada AbrahamApakah engkau mempercayai mimpi itu?” Tuhan mengintervensi dan menyelamatkan Abraham dari melakukan pembantaian besar (37:107) dan dosa besar (4:93).

————————————————

Kini mari kita melihat penafsiran Islam tradisional mengenai peristiwa ini. Para cendekiawan Muslim mengklaim Tuhanlah yang telah memerintahkan Abraham untuk membunuh putranya Ismail untuk mengujinya. Dengan kata lain, Tuhan ingin mencari tahu apakah Abraham lebih mengasihi putranya daripada Tuhan! Mereka kemudian menambahkan ketika Tuhan telah yakin bahwa Abraham lebih mengasihi-Nya daripada putranya sendiri, dan sesaat sebelum Abraham menyembelih putranya, Tuhan menggantikan Ismail dengan seekor domba untuk mencegah pembantaian itu terjadi.

Untuk mengekspos klaim naif dan benar-benar tidak rasional ini, mari kita memperhatikan analogi berikut ini:

Andaikan anda mempunyai seorang putra berusia 10 tahun dan seumur hidup anda mengajarinya bahwa mencuri itu perbuatan yang salah dan ia tidak boleh mencuri uang apapun alasannya. Kini andaikan suatu hari anda ingin menguji anak anda, akankah anda mengujinya dengan memerintahkannya mencuri sejumlah uang untuk anda? Akankah anda memerintahkan anak anda untuk melakukan apa yang seumur hidup anda larang untuk ia lakukan, sekalipun anda ingin melihat seberapa besar kasihnya kepada anda?

Tentu saja tidak! Demikianlah Tuhan menetapkan dalam Quran (dan dalam semua kitab suci) bahwa membunuh orang yang tidak bersalah adalah dosa yang besar. Ismail tidak berdosa dan ia seorang beriman yang saleh, ia tidak melakukan dosa apapun sehingga ia pantas dibunuh.

Tuhan tidak akan pernah menguji Abraham dengan memerintahkannya melakukan sesuatu yang telah ditetapkan Tuhan sebagai sebuah dosa yang besar.

Inilah pesan dalam Sura 7:28 = Tuhan tidak akan pernah menganjurkan untuk melakukan dosa.

Orang-orang yang membaca Sura 7:28 namun tetap berkeras bahwa Tuhan memerintahkan Abraham melakukan dosa adalah orang-orang munafik yang mengatakan bahwa mereka mempercayai Quran tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Itu tidak lebih dari sekadar bermulut manis.

Sesungguhnya Tuhan menguji kita semua, tetapi Tuhan menguji kita berkenaan dengan menjunjung tinggi semua perintah-Nya, dan bukan untuk melanggar perintah-perintah Tuhan tersebut!

Lebih jauh lagi, konsep berkurban bagi Tuhan adalah konsep yang salah yang telah menerobos ke dalam Perjanjian Lama. Konsep ini sama sekali tidak didukung oleh Quran. Dalam Quran sama sekali tidak kita dapati Tuhan meminta kita untuk memberi kurban bagi-Nya.

Harus diingat bahwa kurban hewan (yang merupakan salah satu dari ritual-ritual asli ibadah Haji) sama sekali tidak berkaitan dengan mimpi Abraham. Ayat berikut ini mengkonfirmasi bahwa kurban hewan adalah ritual Haji yang sesungguhnya, juga bahwa mengurbankan hewan tidak dilakukan ‘untuk Tuhan’, tetapi dilakukan bagi keuntungan umat:
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah.” Sura 22:36

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya..” Sura 22:37
Dengan membaca kalimat: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” jelas bahwa kurban hewan selama ibadah Haji tidak dilakukan karena Tuhan membutuhkan kurban, tetapi demi kebaikan kita sendiri. Persembahan-persembahan seperti itu, diberikan kepada orang miskin dan yang berkekurangan, diberikan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang lebih saleh, dan bukan karena Tuhan memerlukan persembahan apapun. Ditambah dengan keuntungan tambahan memberi makan orang miskin dengan daging hewan kurban.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keempat
Mungkin kesalahapahaman yang paling mencolok adalah akibat dari salah menafsirkan Sura 37:107.

Berdasarkan penafsiran-penafsiran tradisional, yang didasarkan pada sudut pandang hadis, diklaim bahwa Allah menyelamatkan Ismail dengan menyediakan seekor domba sebagai gantinya. Namun demikian, ketika kita menguji ayat-ayat Quran yang relevan, kita tidak menemukan pembenaran ataupun sebuah bukti untuk pemahaman seperti itu. Jika kita melihat pada Sura 37:107, kita mencatat bahwa ayat itu terdiri dari tiga kata, yaitu:

  1. Fadaynah
  2. B’Zhabh
  3. Azeem

1- Fadaynah: Kata fidya dipakai dalam Quran dalam pengertian sebuah konsesi, bukan kurban. Seluruh konsep kurban untuk Tuhan, atau dimana Tuhan berkurban untuk manusia, adalah sesuatu yang secara total bertentangan dengan Quran. Untuk mendemonstrasikan pemakaian Quran yang tepat, kita dapat merujuk pada ayat berikut:
“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” Qs 2:196.
Sebagaimana yang dapat kita lihat, kata “fidya” sebagaimana yang dipakai di Sura 2:196 tak mungkin berarti kurban. Ayat ini berbicara mengenai ritual-ritual selama Haji dan khususnya mengenai menaati perintah Tuhan untuk tidak mencukur kepala hingga selesainya ritual pengorbanan hewan. Jika kita sakit atau mengalami luka di kepala (sementara kita diwajidkan untuk tetap mencukur rambut di kepala), maka kita diberi sebuah konsesi (bukan kurban) lewat berpuasa atau memberi sedekah sebagai pengganti dari ritual yang tidak dapat kita jalankan. Kita melaksanakan ritual-ritual kita (atau konsesi yang diberikan) sebagai tindakan ketaatan kepada Tuhan dan bukan sebagai kurban yang kita beri kepada Tuhan!
2- B’Zhabh: Kata ini artinya: menggantikan penyembelihan. Muslim tradisional berpikir bahwa seekor domba yang diberikan Tuhan kepada Abraham untuk disembelih adalah sebagai pengganti dari Ismail, namun Quran tidak berbicara tentang pemberian domba manapun atau binatang apapun! Satu-satunya penyembelihan yang dibicarakan adalah dalam kaitan dengan insiden dimana Abraham hampir menyembelih Ismail.

Hal ini membawa kita untuk percaya bahwa kata Zhabh dalam Sura 37:107 berbicara tentang penyembelihan Ismail yang hampir saja terjadi, dan bukan mengenai seekor domba atau seekor binatang lainnya yang tidak disebutkan dalam ayat-ayat ini. Fakta ini lebih jauh didukung melalui kenyataan bahwa kata “Azhbahak” yang dipakai di Sura 37:102 merujuk pada penyembelihan Ismail, karena itu mengapa kita harus menafsirkan kata yang sama dalam Sura 37:107 untuk berbicara mengenai sebuah binatang imajiner yang tak pernah disebut dalam ayat-ayat ini?

 

3- Azeem: Kata Azeem dapat berarti salah satu dari kata-kata berikut: besar, bencana atau tragis.

Ketika kita menaruh ketiga kata bersama-sama, maka kita akan menemukan gambaran yang sepenuhnya berbeda dari penafsiran tradisional dari ayat ini. Ketiga kata bersama-sama mengatakan bahwa Tuhan membuat sebuah konsesi besar yaitu dengan mengintervensi (Fidyah) untuk mencegah bencana (azeem) penyembelihan (Zhabh) yang hampir saja dilakukan oleh Abraham.
Intepretasi tradisional dimana Tuhan menyediakan seekor domba sebagai pengganti Ismail tidak dapat menjustifikasi penyebutan bahwa itu adalah sebuah “sembelihan yang besar”! Hal apa yang dapat dianggap besar dari menyembelih seekor domba?

Tetapi jika penyembelihan ini secara tepat merujuk pada niat untuk menyembelih Ismail, maka hal ini sesungguhnya merupakan kesalahan yang sangat fatal di pihak Abraham.

Konsesi dari Tuhan untuk mencegah penyembelihan ini adalah untuk menyelamatkan Abraham dari dosa dan juga untuk menyelamatkan Ismail sehingga lehernya tidak perlu dipenggal. Tuhan secara normal tidak mengintervensi untuk menyelamatkan seseorang dari melakukan dosa, jadi intervensi yang dilakukan Tuhan pada saat itu adalah sebuah konsesi dari Tuhan. Alasan mengapa Tuhan mengintervensi diberikan dalam Sura 37:110-111:

“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”
Ini sama sekali tidak berbeda dengan saat ketika Tuhan mengintervensi untuk menyelamatkan Yusuf dari melakukan perzinahan dengan istri majikannya (Sura 12:24). Sekali lagi, Iblislah yang berbisik pada Yusuf agar melakukan dosa perzinahan dan bukan Tuhan, tetapi Tuhan membuat konsesi (yaitu intervensi) untuk menyelamatkan Yusuf dari dosa. Ketika Iblis menginspirasi seseorang untuk melakukan perzinahan atau dosa lainnya, Tuhan biasanya tidak mengintervensi untuk menyelamatkan orang itu dari dosa. Tuhan memberi orang itu hukum benar dan salah, dan Tuhan memberinya kebebasan untuk memilih sendiri baginya apa yang salah dan apa yang benar, dan inilah sebabnya mengapa Tuhan menyebut intervensi untuk menyelamatkan Abraham sebagai sebuah konsesi.

 
Kelima

Jika telah ditetapkan bahwa mimpi Abraham tak mungkin berasal dari Tuhan, kalau demikian dari siapakah mimpi itu berasal? Tanpa perlu dipertanyakan lagi, mimpinya itu pastilah dari sosok yang selalu menggoda orang untuk berbuat dosa:

Syaitan menjanjikan kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. Sura 2:268
Tuhan memberikan pada kita fakta-fakta mengenai hal ini secara hitam putih. Karena itu siapapun yang menyatakan berdasar pada informasi Quran ini bahwa mimpi Abraham berasal dari Tuhan, pada hakekatnya mereka menolak sejumlah ayat-ayat Quran.

SUMBER: http://www.quranislam.org/articles/abrahams_sacrifice_%28P1164%29.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *