Renungan

Mutiara yang Tidak Ternilai

Penyelam pencari permata dari India itu melompat dan menyelam dengan penuh keahlian ke dalam lautan. Sahabat terbaiknya, David Morse, menunggu di perahu sampai kepala sahabatnya muncul kembali ke permukaan air. Ia membuka kerang dengan pisau lipatnya.

David Morse: “Rambhau, kamu penyelam yang sangat hebat. Mutiara ini pasti sangat mahal.”
Rambhau: “Ya, kelihatannya lumayan juga.”
David Morse: “Apakah mungkin ada mutiara yang lebih bagus dari mutiara ini?”
Rambhau: “Aku memiliki satu di rumah yang jauh lebih bernilai dibandingkan dengan yang ini.”
David Morse: “Aku lihat mutiara ini sudah sempurna. Kamu melihatnya terlalu kritis.”
Rambhau: “Itu yang selalu kamu katakan mengenai Tuhan. Manusia sering mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi kau mengatakan kalau Tuhan melihat apa yang sungguh-sungguh ada di dalam diri orang itu.”
David Morse: “Ya, benar sekali. Tetapi Ia mau memberikan kepada semua orang hati yang murni. Itu karunia Tuhan. Apakah kamu mengerti hal itu?”

Sementara itu, kedua sahabat itu sudah sampai ke pantai.
Rambhau: “David, kelihatannya itu terlalu mudah. Aku terlalu sombong untuk bisa langsung menerima karunia yang demikian. Aku mau melakukan sesuatu untuk mencapainya. Kau lihat peziarah yang ada di sana? Dia berjalan kaki tanpa alas kaki sampai dia mencapai Kalkuta. Aku ingin mengadakan perjalanan dengan merangkak sampai ke Delhi.”
David Morse: “Rambhau, itu lebih dari 1.200 kilometer. Sebelum kamu sampai ke sana, kamu sudah mati karena darahmu keracunan.”
Tetapi apa yang dikatakan oleh David Morse sama sekali tidak berpengaruh bagi Rambhau. Beberapa haripun berlalu.

David Morse: “Rambhau, apakah itu kamu? Masuklah.”
Rambhau: “David, besok aku akan memulai ziarah yang aku ceritakan kepadamu. Aku mau menceritakan tentang anak laki-lakiku kepadamu sebelum aku berangkat.”
David Morse: “Kamu memiliki anak laki-laki?”
Rambhau: “Ya, dia adalah penyelam pencari permata terbaik di seluruh pantai India. Ia ingin mendapatkan mutiara yang paling indah. Dan dia berhasil menemukannya. Tetapi karena kesulitan mengambilnya, ia terlalu lama berada di dalam air, dan tidak lama kemudian dia meninggal. Karena kau adalah sahabat terbaikku, aku akan memberikan mutiara yang anakku temukan.”
David Morse: “Rambhau, ini indah sekali. Sempurna! Tetapi aku tidak mungkin menerimanya secara cuma-cuma. Aku akan memberikan 10.00 Rupee kepadamu.”
Rambhau: “Tetapi kamu tidak boleh membayarnya seperti membeli!”
David Morse: “Kalau uangnya masih kurang, aku akan bekerja keras mendapatkan sisanya.”
Rambhau: “David, mutiara ini tidak ternilai harganya. Anak laki-lakiku membayarnya dengan nyawanya.”
David Morse: “Rambhau, itulah yang selalu aku ceritakan kepadamu mengenai Tuhan. Pemberian keselamatan dari-Nya tidak bisa dibeli. Ziarah atau perbuatan baik juga tidak akan bisa membelinya. Keselamatan itu adalah anugerah dari Tuhan, karena Yesus, Putra Elohim, membayar dengan nyawa-Nya. Maukah kamu menerima anugerah itu pada saat ini?”
Rambhau: “Sekarang aku mengerti. Keselamatan itu dibayar-Nya dengan nyawa Anak Tunggal-Nya. Aku mau menerima anugerah keselamatan itu pada hari ini.”
Keselamatan adalah anugerah Allah, dan tersedia bagimu juga.

Sumber: WOL

One thought on “Mutiara yang Tidak Ternilai

  1. Jika ELOHIM tidak mengikat perjanjian dgn NUH & ABRAHAM kiamat sdh pasti terjadi pd jaman mereka, ini bukti TUHAN sejati menepati janji, bukan tuhan abal 2 ciptaan muhamad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *