BlogSyariah

KASUS AHOK VS. SURAH AL-MAIDAH 51: KENAPA MUI TAK BERANI BER-FATWA SAJA?

KASUS AHOK VS. SURAH AL-MAIDAH 51:
KENAPA MUI TAK BERANI BER-FATWA SAJA?

mui

Mempertanyakan Kejujuran MUI dalam Kasus Ahok dan Al Maidah 51

oleh Ade Armando

Hari Selasa lalu (11/10), Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Pendapat dan Sikap Keagamaan Majelis Ulama Indonesia tentang kontroversi Ahok dan Al Maidah 51. Sebagai umat Islam, saya sebenarnya ingin sekali menghormati para ulama. Saya selalu percaya pada kebaikan agama, dan karena itu saya selalu berharap pada kehadiran para ulama berintegritas untuk menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai agama ke tengah masyarakat.

Sayangnya, Pendapat dan Sikap MU soal Ahok yang ditandatangani  KH Ma’ruf Amin (Ketua Umum)  itu sungguh mengecewakan. MUI tidak jujur dan menutupi kebenaran.

Saya ringkas sedikit isi Pendapat dan Sikap MUI tersebut:

  1. Menurut MUI, Al Maidah 51 secara eksplisit melarang umat Islam memilih Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin, dan ulama wajib menyampaikan larangan itu pada umat Islam.
  2. Menurut MUI, setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran bahwa Al Quran memang melarang umat Islam memilih pemimpin Nasrani dan Yahudi. Siapapun yang menyebarkan ajaran yang benar itu tidak dapat dipandang sebagai menyebarkan kebohongan. Justru mereka yang menuduh perintah itu sebagai kebohongan dapat dikategorikan sebagai melakukan penodaan terhadap Al Quran
  3. Karena itu, MUI menganggap pernyataan Ahok dapat dikategorikan sebagai menghina Al Quran dan menghina ulama.
  4. MUI merekomendasikan aparat penegak hukum menindak tegas siapapun yang menghina Al Quran dan menghina ulama.

Buat saya, MUI bersikap tidak jujur karena satu hal utama: MUI tidak jujur mengakui bahwa sebenarnya ada banyak interpretasi tentang Al Maidah 51.

MUI menyatakan bahwa Al Quran secara eksplisit melarang umat Islam memilih pemimpin Yahudi dan Nasrani. Padahal itu hanya satu penafsiran. Ulama seharusnya adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas. Dengan demikian, tidak mungkin ulama tidak tahu bahwa ada beberapa penafsiran tentang Al Maidah.

Sekadar catatan, isi Al Maidah 51 yang kontroversial tersebut berbunyi: “Hai orang beriman jangalah kaliah mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi ‘awliya’ kalian  . . . “

Sebagian ulama memang menafsirkan kata ‘awliya’ sebagai pemimpin. Tapi ada banyak ulama yang menafsirkan kata ‘awliya’ sebagai pelindung, sekutu, kawan dalam konteks peperangan. …tafsiran terhadfap kata ‘awliya’ itu beragam, sehingga ulama yang menyatakan bahwa Al Quran secara eksplisit memuat larangan untuk memilih pemimpin non-muslim adalah ulama yang tidak jujur.

Bahwa Ma’ruf Amin percaya bahwa surat Al Maidah memuat larangan memilih pemimpin non-muslim, tentu tak perlu dipersoalkan. Tapi Ma’ruf Amin harus jujur menyatakan bahwa memang ada tafsiran lain yang mungkin saja dia tidak setujui.   Menyatakan bahwa hanya ada satu tafsir tentang Al Maidah 51 adalah KEBOHONGAN.

Saya browse ke berbagai sumber, dan saya menemukan ada banyak ulama atau tafsir yang tidak sepakat  bahwa Al Quran melarang  umat Islam memilih pemimpin non-muslim. Buku tafsir  atau ulama yang menyajikan pandangan semacam itu, antara lain:

  • Ibn Katsir (ulama besar abad 14, Suriah)
  • Ibn Taimiyah (ulama besar abad 13-14, Damaskus)
  • Tafsir al-Baidhawi (oleh Nasir al-Din Abu al-Khair ‘Abdullah ibn ‘Umar al-Baydawi, abad 13)
  • Tafsir Muqatil (oleh Muqatil bin Sulaiman, abad ke-9,)
  • Tafsir al-Durr al-Mansyur (oleh Jalal al-Din al Suyuti, Abad 10)
  • Tafsir Al-Kabir (oleh Muhammad bin Umar Fakhr al-Din al-Razi, abad 12)
  • Tafsir Al-Mizan (oleh Al-Thabathabai, abad 14)

Jadi bisa terbaca, buku-buku tafsir klasik yang ditulis para ulama tafsir terkemuka pun sudah memuat interpretasi yang tidak mendukung pengharaman memilih pemimpin non-muslim

Di abad 20, ada pula nama ulama besar seperti Sayyid Thantawi, Rashid Rida, Farag Fouda dan Fahmi Huwaydi  (semua dari Mesir), yang menolak pelarangan memilih pemimpin nonmuslim.

Di Indonesia, hal serupa juga disuarakan Quraish Shihab (ahli tafsir lulusan Al Azhar, Mesir; mantan Menteri Agama), Said Aqil Siradj (Ketua Umum PB NU), Ahmad Syafii Maarif (mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah), dan sejumlah ulama lainnya.

Jadi tidaklah bisa dikatakan bahwa Al Quran memang melarang umat Islam memilih pemimpin non-muslim. Ulama yang menyatakan bahwa Al Quran melarang umat Islam memilih pemimpin non muslim,  tanpa menjelaskan bahwa sebenarnya ada tafsiran lain,  adalah ulama yang tidak jujur, yang menutupi kebenaran.

Bahwa MUI sampai sekarang tidak pernah mengeluarkan Fatwa yang melarang umat Islam  memilih pemimpin non muslim,  adalah bukti bahwa MUI sendiri tidak satu suara mengenai isu ini. Pada 2009, MUI pernah mengeluarkan Fatwa tentang Kewajiban Memilih dalam Pemilu. Tapi tidak ada satu pasal pun di dalamnya yang melarang umat Islam memilih pemimpin muslim.  Padahal Fatwa itu ditandatangani juga oleh Ma’ruf Amin yang ketika itu merupakan pimpinan Komisi Fatwa MUI. Umat Islam di Indonesia tentu ingin menghormati para ulamanya. Tapi tentu umat Islam di Indonesia berhak memiliki ulama yang jujur, berintegritas dan tak terbeli untuk kepentingan politik sempit.

MUI sudah sepantasnya meminta umat Islam untuk tidak terbelah dengan Al Maidah. MUI wajib meminta ulama di Indonesia untuk tidak menyembunyikan kekayaan tafsir yang ada. Bila ulama dengan sengaja menutup-nutupi fakta itu, jangan salahkan kalau ulama semacam itu dicap ‘pembohong’. Atau lebih parah lagi: ulama semacam itu akan dicap sebagai ‘penerima sogokan’. Ulama harus jujur. Ulama tidak boleh menutupi kebenaran. Ulama tidak boleh bohong. Saya yakin MUI dan umat Islam setuju dengan itu.

KOMENTAR AWAM DALAM 1 KALIMAT:

SEKALIPUN NON-MUSLIM ITU DINYATAKAN OLEH ULAMA/MUI SEBAGAI JAHAT ATAU BERSALAH, SAMA SEKALI ITU TIDAK SERTA MERTA BERARTI MEREKA ITU BENAR.

PENJELASANNYA:
Diatas sudah disinggung tentang ayat Alquran 5:51 yang multi tafsir, sehingga segera terlihat bahwa pemahaman MUI terhadap ayat ini (saja!) – yang menggunakan 1 jurus tafsir saja dengan mengabaikan yang lainnya– jauh lebih kerdil ketimbang otoritas yang harus diperlihatkannya. MUI terkesan ambigu, tidak berani mengeluarkan Fatwa yang melarang Muslim memilih pemimpin non muslim. Mereka melainkan menyasar pernyataan Ahok yang dianggap telah menuduh bahwa ulama penyebar ayat kebenaran itu dipandang sebagai menyebarkan kebohongan.
Dan itu dikategorikan sebagai menghina Al Quran dan menghina ulama dan harus dihukum.
Tetapi pertanyaan pokoknya: Benarkah semua ulama yang mengutip ayat Alquran yang benar itu, selalu benar menyebarkannya dengan benar?

Masih segar dalam ingatan kita betapa kasus serupa yang memainkan ayat-suci menimpa Megawati disaat menjelang jadi Presiden RI ke-5, yang didampingi oleh Hamzah Haz sebagai Wakil Presiden. Betapa sebelumnya Hamzah Haz dengan PPP-nya ngotot mengeluarkan fatwa haram perempuan menjadi pemimpin.
“Islam melarang perempuan jadi Presiden. Jangan dirasional-rasionalkan. Kalau perempuan jadi Menteri, Gubernur, Ketua RT, saya kira itu tak masalah. Tapi ini pemimpin kita.” Tegas Hamzah waktu itu.

Dan betapa Amien Rais sempat menyebarkan pernyataan yang menyinggung hati banyak perempuan (walau mereka bukan pendukung Megawati): “Sepanjang masih ada lelaki yang becus, takkan pernah laki-laki dipimpin perempuan”. Maka ayat suci Alquran juga telah didengungkan ke-mana-mana, yaitu “Lelaki adalah pemimpim (qawwam) bagi perempuan” (Surat An-Nisa: 34). Bahkan untuk lebih meyakinkan umat Islam dalam menolak Megawati, para ulama mengikutkan pula Hadits Shahih yang mendeskritkan beliau sebagai wanita: “Tidak akan sejahtera suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada seorang perempuan. (HR.Al-Bukhari, Al-Turmuzi, dan An-Nasa’i).

Namun ketika kemudian Hamzah menikmati posisinya sebagai wakil Megawati, Presiden Perempuan yang dulu ditolaknya, semua Fatwa Agama pun berubah menjadi Fatwa Politik:
“Presiden perempuan boleh”, dengan pelbagai alasan yang paling agamis, “Oh, ini keadaan darurat!”
“Saya dulu menolak karena kami wajib menyampaikan pendapat dari para ulama. Kalau tidak bisa,
ya sudah. Kita kan harus realistis”. Lho, dulu kan katanya, “Jangan di rasional-rasionalkan”?

Alangkah ironis dan mirisnya potret pemimpin umat yang ahli berakrobat dengan ayat2 suci Allah. Namun tidak mampu mempertanggung-jawabkan pertanyaan pokok dari apa yang dibebankan umat kepadanya: Benarkah semua ulama yang mengutip ayat Alquran yang benar itu, selalu benar menyebarkannya dengan benar? Ahok jelas tidak mempermasalahkan kebenaran atau kesalahan ayat.
Ia mempersoalkan manusia yang membawakannya dengan agenda tersembunyi! Dan itu bisa menyangkut hingga kepada Ahli Taurat dan para Imam sekalipun!

Lihatlah betapa Yesus membasmi hati para ulama Israel yang busuk dengan memberi satu tamparan yang menciutkan semua mereka (baca Injil kesaksian Rasul Yohanes 8:3-9):

Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya (Yesus) seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus:
“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

4 thoughts on “KASUS AHOK VS. SURAH AL-MAIDAH 51: KENAPA MUI TAK BERANI BER-FATWA SAJA?

  1. KITA HARUS BERPIKIR PAKAI OTAK. SEBELUM MEMILIH SIAPA YANG HARUS MENJADI PEMIMPIN, COBA BANDINGKAN DULU MANA YANG LEBIH MAJU : NEGARA DENGAN PEMIMPIN MUSLIM atau NON MUSLIM ?

    TUHAN TIDAK AKAN MEMBUAT ATURAN HARUS PEMIMPIN MUSLIM, karena ATURAN SEPERTI ITU MENYINGGUNG PERASAAN NON MUSLIM !

    PILIHLAH PEMIMPIN YANG JUJUR DAN PANDAI, SUPAYA INDONESIA MAJU.
    JANGAN HANYA GUBERNUR. MENJADI PRESIDEN TIDAK MASALAH !

  2. ngene lo lek, nek kabeh wong muslim ngerti makna almaidah 51 iku gak mungkin demo,
    kurang gawean opo?
    opo maneh sampe ono cenk kente,an duwit mala ono cenk keno gas mata air barang…
    nanging memang kudu perlu ono cenk demo, iku artine wong muslim ijek ambegan nang negoro iki..
    nanging jal nek bongso islam utawa selain islam mulai mencak mencak ga genah!! tak jamin NKRI bakal di robohno garo poro wong muslim.

  3. -_-
    fokus masalahnya kan penghinaan ayat Allah.
    Kalimatnya kan ‘Dibohongi oleh Al Maidah 51, dsb”

    Kl kita pakai tafsir awliya = pemimpin atau arti yg lain, sama saja artinya yaitu dibohongi. ya kan?

    Kita coba ya pakai arti pemimpin dan bukan pemimpin.
    1.
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin bagimu; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

    2.
    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman bagimu; sebahagian mereka adalah teman bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

    Jadi pakai arti lainnya pun, fokusnya ialah dibohongi.
    Hal ini menghina ayat Al Quran, menghina muslim.
    Karena dia bukan muslim, mencaci ayat agama lain, yg bukan agamanya.

    Lagi pula, ahok mengaku salah koq.
    Selain itu, anda sebelum bicara depan umum, pasti melakukan persiapan kan? ya setidaknya coret2an lah. kn?

    Nah, kecil kemungkinan kalimat itu keluar tanpa disiapkan/dipikirkan. Apalagi isi dan ayatnya tepat begitu.

    Lagi pula, kalau saja dia bs jaga mulutnya, ga ucap ayat suci agama lain, ga masalah besar koq.

    Masalah Fatwa, lihat cara kerja MUI, MUI mengluarkan fatwa karena dapat laporan dari masyarakat, yang kemudian ditindaklanjuti dengan syuro/musyawarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *